Sekitar pukul 10 pagi tadi (12/05/08), puluhan mahasiswa berkumpul di samping Grawida IPB. Lengkap dengan jas almamater IPB-nya. Sepertinya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Bergabung dengan mahasiswa PT lainnya di depan Istana Presiden. Untuk memperingati 10 tahun reformasi. Dalam aksi kali ini tuntutanya adalah:
Tujuh Gugatan rakyat (TUGU RAKYAT):
- Nasionalisasi aset strategis bangsa.
- Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yg bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
- Tuntaskan kasus BLBI & korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai pewujudan kepastian hukum di Indonesia.
- Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.
- Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
- Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan.
- Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.
Yang menjadi pertanyaan, tujuh gugatan rakyat ini datangnya dari mana? apa benar dari rakyat? rakyat yang mana? Atau hasil hanya dari hasil konfrensi para petinggi BEM SI?
Hanya mau mengingatkan, jangan sampai rakyat di sini menjadi sesuatu yang dibicarakan, tetapi tak pernah diajak bicara. Mengatasnamakan rakyat, tapi rakyat ternyata tak memainkan peran apapun selain sebagai penonton.
pengamatan dan dugaan anda benar, rakyat memang tidak diajak ngomong. sy sudah beberapa kali mencoba mengkontak kawan2 mahasiswa, khususnya ttg tuntutan ke 7, dan menawarkan untuk mensinergikan aksi kita. hasilnya, NOL BESAR. Bahkan mengkontak balik aja tidak.
salam keprihatinan dari Pasar Baru Porong
korbanlapindo
Hanya sebuah RETORIKA reformasi…
Tentu amat disayangkan ketika “mereka” yang mengataskan nama rakjat, hanya masih bisa berorasi saja namun dalam kesehariannya amat jauh dari menolong masyarakat yang ada di sekitarnya. Bahkan aktivitas tersenyum dan menyapa saja tetangga di sebelahnya saja mungkin amat sulit.
Inilah reformasi yang diagung-agungkan!!
Kita tahu pemerintah telah menjadi “Buta dan Tuli” tapi tetep saja kita berteriak sekeras2nya…ya ga akan pernah di dengar
Tunjukin bahwa kita memang generasi INteLektual, dan para calon cendikiawan bangsa, yang berjuang benar2 demi rakjat bukan hanya menjadi slogan atau mencari pamor belaka…
Semoga tidak seperti itu…
salam
[...] IPB (Tingkat Persiapan Bersama = Mahasiswa Tingkat 1 di IPB) berangkat ke istana negara.. Detilnya baca di sini aja ya aja ya..? [...]
ada satu yang kurang yang dituntut oleh rakyat dan mahasiswa yaitu rakyat ingin sistem yang ada di ganti dari sistem kemokrasi sekuler menjadi sistem khilafah islamiyah.
janglah hanya bisa menuntut saja berikan juga solusi buat pemerintah dan rakyat inginnya solusi kongkrit bukan omong doang.
kalau aksi taatilah aturan dalam beraksi, aksi itu hanya boleh sampai 16.00wib, tidak anarkis, tidak merusak fasilitas umum, katanya intelektual tapi kok gayanya bukan seperti orang yang berintelektual tinggi.
setuju!
tapi tahukah Anda semua, rakyat Indonesia ini sudah sangat lelah ditimpa masalah sampai gak mampu memikirkan kondisi lingkungannya, apalagi bangsanya..
mereka setiap hari memikirkan “gimana saya makan”, tidak pernah mereka bertanya “tetangga saya makan gak ya?”. Atau “beli minyak tanah di mana ya?” dan bukan “gimana ya cara supaya minyak terjangkau?”
ini saya simpulkan bukan dengan ongkang-ongkang kaki di depan komputer, tapi hasil dari dialog (bahasa keren dari ngobrol ringan) dengan masyarakat wong cilik di sekitar kampus (Balumbang Jaya, Cangkurawok, Cibanteng, Cinangneng, Rancabungur) seperti penjaga warteg, tukang ojek, tukang bakso, penjaga malam, polisi cepek, sampai tukang gali kubur.
mereka gak sempat lagi memikirkan bangsa ini, saudaraku
dan para mahasiswa ini mencoba untuk masuk ke peran yang ‘terlupakan’ itu..
seharusnya, dengan segenap jiwa ksatria, kita harus menghargai usaha mahasiswa itu.. meskipun hasilnya belum tentu gemilang!
mari kita tumbuhkan jiwa saling membangun, tidak hanya menghujat.
terima kasih
Fazlur Rahman
Mahasiswa IE FEM IPB
karena itulah mas, jadi aneh, tujuh gugatan yg mengatasnamakan rakyat tapi justru tidak mencerminkan kebutuhan rakyat banyak
kalau gitu namain aja tujuh gugatan mahasiswa
@alasyjaaripb:
sabar-sabar….
pelan-pelan ya…
belajar sajalah…cepat selesaikan skripsimu…biar cepat lulus dan bisa kerja, biar cepat kaya, usah kau pedulikan bangsa ini…lagian orang tua kalian masih sangat mampu menjamin kesejahteraan kalian.
usah kau pedulikan rakyat miskin negeri ini…yang tak mampu bayar biaya pendidikan karena mahalnya selangit, boro2 sekolah, makan 3x sehari saja tak mampu. sebab penghasilannya tak cukup buat beli sembako yang mahal.
acuhkan saja, toh cuma media yang membesar-besarkan berita kalo banyak masyarakat yang mengantri berhari-hari untuk membeli minyak dengan harga tak terjangkau.
acuhkan saja pemerintah negeri ini, yang menjual hutan lebih murah dari pisang goreng, yang melindungi illegal logging tetap meraja lela…biarkan saja…
masa bodoh…freeport diberikan ke penjajah dengan cuma-cuma, toh kalian masih bisa hidup layak, usah kau pedulikan…petani negeri ini teraniyaya, ketika panen raya harga gabah dimainkan, acuhkan saja…lagian orang tua kalian kan bukan petani.
biarkan saja…pemerintah negeri ini lebih mudah menangis saat menonton “AAC” ketimbang menyaksikan rakyatnya berbondong-bondong bunuh diri karena himpitan ekonomi dan kelaparan.
biarkan saja pemerintah negeri ini tetap melindungi pengemplang BLBI yang konon merugikan negara > 1000 triryun itu.
biarkan saja, g usah! g usah kau ikutan sok2 peduli, dan sok pengin jadi pahlawan pembela rakyat! g usah!
tapi buat apa kau miliki jaket biru itu
jika bergerak untuk rakyat saja
kau enggan?!!!?
diatas itu kutipan pamflet yang mengajak untuk ikut aksi 12 mei…
apakah dengan ikut demo berarti sudah paling peduli dengan nasib rakyat, sedangkan yg tidak ikut berarti tidak peduli, egois, dll…
jadi yang sebenarnya suka menuding itu siapa?
@galigongli: Semoga BUKAN mencari pamor, saja! Setujuh!!!
@Fazlur: Setujuh!!!
@lilamr:
Apakah hanya diam, duduk didepan komputer, kuliah rajin, kritik sana-kritik sini, itu lebih peduli terhadap masalah sekitar???
Daripada mahasiswa yg msh sempat memikirkan lwt diskusi2nya bagimana ya nasib masyarakat ketika BBM naik, mahasiswa yg msh menyuarakan kepihatinan lewat akis2nya, mahsiswa yg memikirkan Bina Desa besok, pelakasanaan fogging kemarin gmn ya? Atau sunatan massal kemarin yg ikut berapa ya?
@lilamr:
yok mas.. silahkan panjenengan tambahkan kira2 gugatan apa lagi yang dibutuhkan rakyat. Saya yakin panjenengan tahu banyak.
Kalo sekira kurang, ya tolong ditambahi. Kalo salah, ya tolong diluruskan. Kalo sekira benar, ya didukung.
Itulah cerminan jiwa saling membangun.. sesama saudara gitu loh..
kita main fair-fair aja lah ya.. =)
salam kenal mas!
@all:
Wah-wah rame euy…
Ayolah kita merumuskan bersama, bagaimana baiknya…
karena mengandalkan pemerintah sama saja seperti mengharapkan hujan di musim kering, tak kunjung segera datang…
mari kita inisiasikan pergerakan bersama, tinggalkan lah langkah aksi tersebut yang belum semuanya bersih malah mencoreng nama mahasiswa…
Contoh konkret,
BEM SI beserta jajarannya, mentransfer kompetensinya masing-masing pada masyarakat setempat…
IPB dengan pertaniannya…
ITB dengan teknologinya…
UI dengan kedokterannya…
dan yang lainnya…
Ajari masyarakat untuk maju dan berkembang…
jadikan mereka cerdas, sehingga dalam memilih pimpinan bukan asal pilih, karena fanatik atau ada dana yang menggiurkan…
Dengan begitu rakjat bangsa ini, insya allah lebih mapan…
Pertanyaannya adalah…
APAKAH ADA UPAYA TERSEBUT DAN SEJAUH MANA KEIKHLASAN UNTUK MELAKSANAKAN ITU…?
saya tidak tahu
Salam kenal juga buat FAzlur
punteun, boleh ikut berkomentar?
manusia itu banyak. saya yakin, yang berusaha jadi manusia baik juga banyak. daripada saling mengarahkan padahal belum tentu benar atau salahnya, lebih baik masing2 dengan apa yang diperjuangkannya tetap berbuat kebaikan..
iya sih, perbuatan baik pertama adalah mencegah keburukan. apa kita yakin bahwa sesuatu yang kita cela itu buruk sehingga harus dicegah?
manusia itu banyak. dan untuk kebaikan, insya Allah akan ‘terketuk’ di ranah masing2.
mohon maaf, tolong diluruskan jika salah.
terima kasih.