Pada tanggal 1 Mei 2008 kemarin, Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB menyelenggarakan Bedah Buku : Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung yang ditulis DR. Dr Sri Fadilah Supari, Bedah Buku ini mengambil tema”Bangkit Negeriku,Lepaskan diri dari neo-imperialisme Menuju Kemandirian” yang bertempat di Auditorium Rektorat, (Sebentar lagi ganti nama jadi Auditorium Andi Hakim Nasution). Rencananya bedah buku ini akan diisi oleh Bu Menteri, namun sehari sebelum hari-H, Bu Menteri mengirim permintaan maaf tidak bisa hadir karena ada kepentingan.
Acara dimulai pukul 08.31 WIB dari rencana semula pukul 08.00 WIB. Acara dibuka oleh Pak Rimbawan Direktur Kemahasiswaan IPB selaku wakil dari Pak Rektor (Pak Rektor gak bisa hadir karena persiapan penggantian nama Auditorium Rektorat). Bedah buku ini di moderatori oleh Bapak Epi Taufik (Maaf klo salah nulis nama Pak, bingung dengan aksen Sunda, P atau V atau F) Dosen Fakultas Peternakan IPB, beliau mengatakan bahwa inti dari buku ini ADA neo-imperialisme di Indonesia dan ini sudah bukan kecurigaan lagi.
Sebelum bedah buku dimulai ada aksi teatrikal, seorang dengan nama MERDEKA yang kaya raya, selalu dikawal dua bodyguard yang anehnya malah mengekang dan menikmati kekayaan sang MERDEKA. Suatu ketika MERDEKA sakit, oleh Bodyguardnya dipanggilkan Dokter-dokter, yaitu : IMF, Bank Dunia dan WTO, sayangnya Sang Merdeka tambah parah sakitnya, akhirnya Sang Merdeka meminta obat pada dokter lain yang diharapkan dapat membantunya untuk Sembuh.
Kembali ke Bedah Buku, : Sebenarnya yang mau jadi pembicara pertama adalah Dr Jose Rizal MER-C, namun karena seperti yang biasa terjadi, kejebak macet di Bubulak. Sehingga Selaku pembicara pertama adalah Bapak Fachriyan H Pasaribu FKH IPB : “Sebelumnya saya di sini belum dapat melupakan masalah Sakazaki yang kemarin, namun selaku seorang yang profesional, saya lupakan sejenak kali ini, buku ini terdiri dari xiv+204 halaman, terdiri dari 5 chapter, dengan jenis tulisan populer, materi kedaulatan bangsa, keadilan, kesetaraan, dan transparasi, isi buku terutama pada Virus Sharing, flu Burung, dan WHO sendiri, dari hasil dari yang beliau baca adlah, adanya kegalauan dari penulis tentang tatanan politik Internasional, ketidak adilan pada negara tertinggal, mengubah paradigma WHO dll (banyak banget klo ditulis). Saran Beliau untuk buku ini adalah judul buku sebaiknya Saatnya INDONESIA Berubah”.
Pembicara kedua adalah bapak Dr Jose Rizal Spesialis Orthopedi dan Traumatologi Koordinator MER-C : “Buku ini ditulis oleh sorang menteri yang sedang menjabat, bukan seorang yang retired (pensiunan yang menganggur), beliau sedang mempertaruhkan jabatannya, dan beliau saat ini pun sedang memegang kekuasaan. Intinya pada Perjanjian Material Transfer Unit (kemungkinan besar ane salah denger), sample virus dari berbagai negara wajib dikirim ke WHO, namun dari WHO virus flu burung ini malah diberikan ke perusahaan swasta di negera yang tidak terkena flu burung sama sekali, bahkan sampai ke lab militer juga.. dll dst (banyak juga)
Pembicara ketiga yaitu Ir Dwi Chandra Triyono M.Ag: “Buku ini membuktikan bahwa hagemoni dunia itu ada & buktinya disebutkan, dan hagemoni ini bisa dilawan, buku ini harusnya dibedah oleh Bapak Presiden Kita, sementara pesertanya adalah menteri kabinet Indonesia Bersatu, ada 3 kata yang paling sering diulang dalam buku ini, yaitu neo kolonialisme, neo kolonialisme, dan neo liberalisme saat ini bukan hanya kekayaan alam saja yang diperdagangkan, bahkan virus.” Pak Chandra juga mengatakan bahwa di Jogja, beliau tidak bisa mendapatkan buku ini, entah laris atau diborong untuk dibakar, sehingga beliau terpaksa meminta dari Panitia untuk mengirim buku ini.
Dengan Tiket yang khusus buat TPB (Special Price) Rp 10.000,00, diskusi yang menarik dan konsumsi yang enak, ane terpaksa gak bisa nonton final TPB Cup, sedihnya
.
Udah gw parser kok cuma ketemu tiga kata yak? *pusing*
afwan bukan Dwi Chandra Triyono tapi Dwi Chondro Triyono, nggak nyeselkan ikutan acaranya dari pada nonton TPB Cup enakan nonton Bedah buku dapat ilmu tahu apa yang terjadi
komen diatas sekaligus sebagai ralat, matur nuwun..
[...] sebuah seminar yang saya ikuti pada tanggal 1 Mei kemarin, di akhir acara ada sedikit waktu acara ngobrol dengan panitia, oleh Mas panitia ditanya apa [...]